+62 858 9024 4000 info@larealit.com

Metode BCCT (Beyond Centers and Circle Time) dikembangkan oleh Pamela C Phelps, Phd. di Creative School, Tallahassee Florida, Amerika Serikat sejak tahun 1970. Metode ini dibawa dan diadopsi di Indonesia pada tahun 1996 yang kemudian dikenal dengan “Metode Sentra”.

Metode Sentra adalah cara belajar mengajar yang revolusioner bagi pendidikan anak usia dini. Inilah jawaban menyeluruh terhadap kebutuhan bangsa yang kini sibuk mencari formula bagi sebuah “pendidikan karakter” yang bisa mengubah moral-mental-nalar bangsa ini menjadi lebih baik. Juga sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan sebuah pendidikan berstandar internasional.

Dalam pembelajaran dengan Metode Sentra, kurikulum tidak diberikan secara klasikal, melainkan secara individual setiap murid disesuaikan dengan tahap perkembangan masing-masing anak. Selama proses pembelajaran, guru dilarang melakukan “3M”, yaitu Melarang, Menyuruh, dan Marah/Menghukum.

Basis pembelajaran adalah bermain sambil belajar. Suasana belajar mengajar dibangun untuk memberikan rasa nyaman dan bahagia (happy learning). Untuk mencapai suasana tersebut, guru bersama murid duduk dalam lingkaran supaya posisi mata guru sejajar dengan mata para murid, sehingga tidak ada jarak hierarkial. Materi ajar disampaikan secara interaktif dan konkrit, dengan menempatkan murid sebagai pusat. Guru pun menyapa para murid dengan sebutan “teman”. Ketika memasuki kelas, guru tidak datang dengan sikap “akan mengajar apa kepada anak hari ini”, melainkan “aku akan belajar apa kepada anak hari ini”.

Metode Sentra ini membangun kecerdasan jamak (multiple intelligence) secara bersamaan dan berimbang, yaitu kecerdasan logika-matematika, bahasa, tubuh (kinestetik), ruang (spasial), kemandirian (intrapersonal), kepedulian sosial (interpersonal), dan musik. Seluruh potensi kecerdasan itu dibangun melalui sentra-sentra (wahana) bermain yang meliputi tiga jenis permainan: permainan pembangunan, sensorimotor, dan main peran. Metode Sentra adalah metode yang melalui tujuh lingkaran Sentra secara ajeg dan berkesinambungan, membangun kesadaran kebermaknaan pada anak.

Ada tujuh sentra yang disediakan agar anak-anak bisa bermain gembira dan mendapatkan banyak pilihan pekerjaan. Sentra-Sentra itu adalah:

  1. Sentra Persiapan (membangun kemampuan keaksaraan);
  2. Sentra Balok (merangsang kemampuan konstruksi, prediksi, presisi, akurasi, geometri, matematika);
  3. Sentra Seni (membangun kreativitas, sensori motor, kerja sama);
  4. Sentra Bahan Alam (membangun sensori motor, fisika sederhana, pemahaman akan batasan, dan sebab akibat);
  5. Sentra Main Peran Besar;
  6. Sentra Main Peran Kecil (membangun imajinasi, daya hidup, adaptasi, kemandirian, kebahasaan, kepemimpinan); dan
  7. Sentra Imtak (iman dan takwa).

Setiap hari, anak bermain di Sentra yang berbeda (moving class).

Di setiap Sentra, kemampuan klasifikasi anak dibangun secara terus-menerus agar mereka memiliki konsep berpikir yang benar, kritis, dan analitis. Semua pengetahuan (knowledge) diberikan secara konkrit, tidak abstrak. Anak-anak dirangsang untuk menemukan sendiri konsep-konsep faktual mengenai bentuk, warna, ukuran, ciri, tanda, sifat, habitat, manfaat, serta rangkaian sebab-akibat.

Sejak dini, anak pun dirangsang untuk bisa mengekspresikan diri dengan baik melalui kelisanan, tulisan, dan gambar. Oleh karena itu, selama proses belajar mengajar, guru melakukan komunikasi interaktif dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, agar cara kerja otak anak pun terstruktur dengan baik. Bersamaan dengan itu, dibangun juga laku praksis (bukan hafalan) karakter-karakter luhur berdasarkan sifat-sifat mulia Allah (Asmaul Husna).

Dengan Metode Sentra, sejak usia dini anak-anak diajak menjalankan nilai-nilai mulia sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama, seperti hormat, jujur, sayang teman, dan lain-lain. Nilai-nilai positif itu dialirkan melalui program sehari-hari, seperti saat makan, main, maupun menjelang tidur.

Kemampuan klasifikasi dibangun dengan sangat kuat. Klasifikasi pada benda konkrit (alat permainan edukatif) berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran diajarkan pada diri anak. Di setiap Sentra, kemampuan itu terus  ditingkatkan, baik saat bermain maupun saat membereskan mainan tersebut. Jika klasifikasi pada hal-hal yang konkrit sudah terbangun, maka kelak jika telah dewasa, mereka akan mampu mengklasifikasi hal-hal yang abstrak. Anak akan mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk.

Dalam hal membangun disiplin anak, Metode Sentra menerapkan discipline with love. Disiplin dijalankan dengan simulasi langsung, sehingga anak-anak tahu dan mengerti tentang mangapa dan untuk apa suatu aturan dibuat. Misalnya pada saat main balok, anak-anak diberi tahu bahwa balok-balok kayu aneka bentuk geometris itu fungsinya untuk bermain pembangunana. Jika balok kayu digunakan untuk hal lain, maka bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Untuk pelajaran membaca, menulis, dan berhitung, cara belajarnya sangat berbeda dengan metode konvensional yang umum diterapkan di Indonesia. Dalam Metode Sentra, anak-anak tidak diajari mengeja huruf-huruf A, B, C atau 1+1=2. Melalui Sentra, kemampuan dan ketrampilan anak dibangun melalui bermain, tanpa tekanan dan paksaan dari guru dan lingkungan. Dengan Sentra, pengetahuan dan ketrampilan anak diorganisir secara rapi. Guru menciptakan kondisi dan memberikan kesempatan kepada anak agar mereka “menemukan sendiri” pengetahuan keaksaraan dan kemampuan berhitungnya. Fenomena yang sering terjadi adalah anak-anak yang dididik dengan Metode Sentra akan lebih lambat dalam kemampuan membaca dan berhitung jika dibandingkan dengan anak-anak yang dididik dengan metode konvensional. Orang tua tidak perlu khawatir dengan fenomena tersebut, karena dengan seringnya anak dirangsang untuk mengeksplorasi dalam “menemukan sendiri” pengetahuan mereka, maka anak yang dididik dengan Metode Sentra akan mampu mengembangkan sendiri kemampuan kognitifnya tanpa doktrinasi dari guru. Hal ini memerlukan proses yang agak panjang, tetapi membentuk pondasi yang kuat bagi anak untuk mengembangkan berbagai kecerdasannya.

Dilarang Melakukan “Tiga M”

Metode Sentra membuat anak belajar dengan gembira, dan sekolah menjadi menyenangkan. Suasana nyaman dan menyenangkan harus dicapai. Oleh karena itu, guru dilarang melakukan “Tiga M”, yaitu menyuruh, melarang, dan marah/menghukum. Karena jika anak dalam kondisi tertekan, kecewa, sedih, atau marah (emosi negatif), maka tidak akan dapat belajar dengan baik. Berdasarkan penelitan, otak pusat berpikir manusia tidak akan berfungsi jika emosi dalam keadaan negatif. Dengan memposisikan anak sebagai subjek dan bukan objek, maka seluruh potensi kecerdasan anak bisa dibangun, dan anak akan tumbuh menjadi pribadi penemu, percaya diri, dan bahagia.

Dream of the Nation

Metode Sentra terbukti sangat efektif digunakan untuk membangun karakter dan kecerdasan anak sejak bayi (usia empat bulan) hingga jenjang SD kelas tiga (usia sembilan tahun). Itulah fase awal kehidupan anak manusia yang oleh para ahli pendidikan disebut sebagai “usia emas” (golden age, 0-7 tahun). Jika belenggu-belenggu ketakutan sudah dihilangkan melalui happy learning approach, kegairahan menimba ilmu dibuka melalui self discovery process, pembangunan karakter dimantapkan melalui sentra-sentra dan role play, aqidahnya dikuatkan dengan dengan Asmaul Husna, jiwa dan pikirannya dibangun oleh Al Quran dan semangat entrepreneurship, maka mereka insya Allah akan menjadi the promising generation (generasi harapan masa depan). Semoga dengan ini Indonesia menjadikan dirinya pantas untuk menjadi pemimpin dunia dan menjadikan umat Islam sebagai khairu ummah dan rahmatan lil alamin.

Rujukan: http://bit.ly/2GlSbjb

WhatsApp chat